Selamat Idul Fitri 1429 H

September 30, 2008

Langit sudah mulai meredup ketika saya melangkahkan kaki ke luar rumah. Sebuah armada taksi langganan sudah menunggu persis di depan pintu pagar.

Selain karena si hitam memang sedang digunakan ayah untuk pergi entah ke mana itu, saya sebenarnya juga sedang malas harus berkendara sendiri. Nyaris setiap hari kemarin itu saya harus bolak-balik ke Depok dan berkeliling kota Jakarta dengan mengendarai si hitam. Lagipula kali ini saya memang hanya akan pergi ke satu tujuan, sehingga rasanya tidak akan terlalu merepotkan tanpa si hitam.

“Selamat sore, Mbak..”

“Sore, Mas.. Kita ke Kelapa Gading, ya?!”

“Baik, Mbak. Sudah tidak ada yang tertinggal?”

“Enggak kok, Mas.”

Si Mas pengemudi taksi pun melajukan kendaraannya menjauh dari rumah saya.

Andi, namanya. Setidaknya, begitulah yang sempat terbaca di kartu pengenal yang terpampang di dashboard depan kursi penumpang di sampingnya itu. Saya sempat melongok sesaat tadi. Ia tampak masih muda, usianya pun mungkin tidak jauh berbeda dari saya.

» baca versi lengkapnya!

Gage Batubara

September 4, 2008

“Kau kpn balik ke jogja?”

Agak lama pesan yang saya kirimkan itu dibalas. Setelah sebelumnya saya justru menolak ajakannya untuk mengunjungi kantor-bersama paman budayawan dan ndorocergas, lantaran masih harus menunggu antrian masuk untuk bertemu dengan dosen di kampus.

Mungkin dia sebal. Karena dia tahu bahwa pertanyaan yang saya ajukan akan diikuti dengan ajakan untuk bertemu sebelum ia memulai kuliah perdananya di Jogja. Tetapi saat dia yang mengajukan tawaran untuk bertemu, justru saya yang (nyaris selalu) tidak bisa.

“Minggu dpn udah mulai kuliah. Knp?”

Thanks, God!

“Tmnin gw ke bandung yuk sabtu bsk…”

Dan selanjutnya, saya sungguh harus menunggu cukup lama sampai balasan pesan saya itu muncul di layar handphone. Saya sudah berhasil mencapai antrian terdepan untuk menemui ibu dosen, melakukan diskusi atas laporan saya, dan kembali ke kantin bersama dengan teman-teman. Belum muncul juga balasan yang saya tunggu.

Yah, sudahlah… Kalau memang dia tidak bisa menemani, sepertinya saya memang harus membatalkan saja rencana untuk bepergian ke sana.

Saya pun berpamitan dengan semua teman yang masih membincangkan entah apa itu dengan serunya. Saya ingin segera tiba di rumah agar bisa tidur dan mengistirahatkan kaki.

“Boleh. Jam brp? Ke sana mau naik apa?”

» baca versi lengkapnya!

dear You

August 19, 2008

dear all of my (blogger) fellows…

Mmm… saya tidak tahu harus memulai dari mana, sebenarnya. Tapi baiklah, mungkin harus diawali dengan permintaan maaf.

Ya, saya sungguh meminta maaf kepada kalian semua. Walaupun mungkin
kalian pun akan bertanya-tanya, kesalahan apa yang sedemikian besar
sudah saya perbuat hingga saya harus menuliskannya di sini, di hadapan
semua orang yang membacanya. Tapi ya, saya memang sungguh ingin meminta
maaf.

Entah kapan persisnya ini semua dimulai. Yang saya tahu, beberapa
minggu atau bahkan beberapa bulan belakangan saya memang secara sepihak
memisahkan diri kalian. Undangan ini-itu berdatangan, mengajak bertemu
di suatu tempat, makan-makan, bersenang-senang, ngobrol tanpa tujuan.
Hal-hal yang sesungguhnya sangat saya nikmati. Lalu saya hanya bisa
membalas pesan-pesan yang masuk ke handphone saya dengan permintaan maaf bahwa saya tidak bisa hadir.

Berbagai jenis jawaban sudah sempat mampir sebagai balasannya. Mulai
dari yang bernada memaklumi, menghibur, dan bahkan hingga tidak
memberikan balasan apa-apa atau mengungkapkan kekesalan yang masih
dibungkus dalam bentuk lelucon serta sindiran.

But I guess, I just deserved them.

» baca versi lengkapnya!